Yayasan Pendidikan Anak Yatim di Karang Satria Bekasi

Perbedaan Antara Menyebutkan Nikmat Allah dengan Ujub

Nikmat yang Harus Disyukuri, Bukan Dibanggakan

Setiap manusia hidup di tengah limpahan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nikmat iman, kesehatan, ilmu, harta, keluarga, hingga kesempatan beribadah adalah karunia yang tidak mampu dihitung oleh siapa pun. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)

Namun, dalam menyebutkan nikmat Allah terdapat batas yang harus dijaga. Tidak sedikit orang yang keliru antara menceritakan nikmat sebagai bentuk syukur dengan membanggakan diri karena merasa lebih hebat daripada orang lain. Di sinilah letak perbedaan antara menyebutkan nikmat Allah (tahdîts bin ni’mah) dan ujub.

Apa Itu Menyebutkan Nikmat Allah?

Menyebutkan nikmat Allah adalah mengakui bahwa seluruh kebaikan yang dimiliki berasal dari Allah semata. Tujuannya bukan mencari pujian manusia, melainkan menumbuhkan rasa syukur, mengingatkan diri sendiri, serta memotivasi orang lain agar semakin dekat kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”
(QS. Ad-Dhuha: 11)

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan seorang mukmin untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat Allah, baik dengan lisan, hati, maupun amal perbuatan. Ketika seseorang berkata, “Alhamdulillah, Allah memudahkan saya menghafal Al-Qur’an,” atau “Allah telah memberikan rezeki sehingga saya dapat bersedekah,” maka ia sedang mengembalikan seluruh pujian kepada Allah.

Ciri-ciri Menyebutkan Nikmat Allah

  • Mengakui bahwa semua berasal dari Allah.
  • Menambah rasa syukur dan ketakwaan.
  • Tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.
  • Mengajak orang lain untuk semakin mencintai Allah.
  • Hatinya tetap rendah hati meskipun memiliki banyak kelebihan.

Apa Itu Ujub?

Ujub adalah kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri hingga merasa bahwa keberhasilan dan kelebihannya berasal dari kemampuan pribadinya. Ia lupa bahwa semua itu adalah karunia Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada tiga perkara yang membinasakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang kagum terhadap dirinya sendiri.”
(HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Orang yang ujub mungkin masih mengucapkan “Alhamdulillah”, tetapi di dalam hatinya ia merasa dirinya memang pantas mendapatkan semua itu karena kepintaran, kerja keras, atau ibadahnya.

Inilah penyakit hati yang sangat halus dan berbahaya.

Pelajaran dari Kisah Qarun

Al-Qur’an memberikan contoh nyata tentang ujub melalui kisah Qarun. Ketika diingatkan agar bersyukur kepada Allah atas kekayaannya, Qarun justru berkata:

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash: 78)

Qarun menganggap kekayaannya murni hasil kecerdasannya sendiri. Ia tidak mengaitkannya dengan karunia Allah. Kesombongan itu akhirnya menjadi sebab kebinasaannya. Allah menenggelamkannya bersama seluruh hartanya ke dalam bumi.

Kisah ini menjadi pelajaran sepanjang zaman bahwa setiap nikmat yang tidak disandarkan kepada Allah dapat berubah menjadi sebab kehancuran.

Perbedaan Utama Menyebutkan Nikmat Allah dan Ujub

Menyebutkan Nikmat AllahUjub
Mengakui semua berasal dari AllahMenganggap berasal dari diri sendiri
Menambah rasa syukurMenambah rasa bangga terhadap diri
Mengingat AllahMelupakan Allah
Rendah hatiMerasa lebih baik dari orang lain
Mengajak orang bersyukurMengharap pujian manusia

Perbedaan utamanya terletak pada niat dan kondisi hati, bukan semata-mata pada ucapan.

Penjelasan Para Ulama Salaf

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ujub merupakan salah satu penyakit hati yang dapat menghapus keberkahan amal. Ketika seseorang melihat amalnya dengan penuh kekaguman, ia mulai lupa akan kelemahan dirinya dan rahmat Allah yang menjadi sebab utama keberhasilannya.

Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah juga menerangkan bahwa ujub muncul ketika seseorang melihat nikmat tanpa melihat Dzat yang memberikannya. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak memiliki apa pun kecuali apa yang Allah anugerahkan.

Karena itu, para salaf sangat takut terhadap ujub meskipun mereka dikenal sebagai ahli ibadah. Mereka lebih banyak memohon agar amal mereka diterima daripada membanggakannya.

Bagaimana Agar Terhindar dari Ujub?

Beberapa cara yang diajarkan Islam untuk menjaga hati dari ujub antara lain:

  1. Selalu mengingat bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
  2. Memperbanyak istighfar setelah beramal.
  3. Mengingat dosa dan kekurangan diri sendiri.
  4. Tidak mencari pujian manusia.
  5. Memohon kepada Allah agar diberi keikhlasan.
  6. Bersahabat dengan orang-orang saleh yang senang menasihati.

Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin kecil ia memandang dirinya sendiri.

Nikmat Terbesar adalah Hidayah

Harta, jabatan, ilmu, dan kesehatan hanyalah titipan yang dapat diambil kapan saja. Nikmat terbesar adalah hidayah untuk mengenal Allah, mencintai Al-Qur’an, melaksanakan salat, dan istiqamah di atas jalan yang benar.

Maka ketika Allah memberikan nikmat kepada kita, ceritakanlah sebagai bentuk syukur, bukan sebagai ajang kebanggaan. Jadikan setiap nikmat sebagai jalan untuk semakin tawadhu, bukan semakin tinggi hati.

Penutup

Seorang mukmin tidak malu mengakui nikmat Allah, tetapi ia juga tidak menjadikan nikmat itu sebagai alasan untuk meninggikan dirinya. Lisannya memuji Allah, sementara hatinya dipenuhi rasa takut kalau-kalau nikmat itu berubah menjadi ujian.

Mari kita senantiasa mengucapkan, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.” Bukan hanya sebagai ucapan di bibir, tetapi sebagai keyakinan bahwa seluruh keberhasilan, rezeki, ilmu, dan amal saleh yang kita miliki adalah semata-mata anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, nikmat akan semakin bertambah, hati akan semakin rendah, dan kita dijauhkan dari penyakit ujub yang dapat merusak amal dan menghalangi datangnya keberkahan.

Leave a Comment

Scroll to Top